Selasa, 17 November 2015

potensi ekowisata bahari 'kota tua'



Potensi Ekowisata Bahari Untuk “Kota Tua”
Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang menekankan tanggung jawab terhadap kelestarian alam (konservasi alam), kemudian dapat memberi manfaat secara ekonomi, mendidik dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat. Tentunya hal ini memerlukan pendekatan pengelolaan yang menjamin adanya keberpihakan kepada masyarakat lokal agar mampu mempertahankan budaya lokal dan sekaligus meningkatkan pendidikan juga kesejahteraannya.
Untuk mengatur agar kawasan yang digunakan untuk ekowisata bahari maka di perlukan manajemen pengelola kawasan pelestarian yang baik dan dapat menerima langsung penghasilan atau pendapatan, misalnya dari retribusi untuk peningkatan kualitas kawasan pelestarian. Masyarakatpun dilibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pengembangan ekowisata bahari agar masyarakat sadar akan pentingnya konservasi alam. Dan keuntungan ekonomi yang diperoleh secara nyata dari kegiatan ekowisata bahari, harus dapat mendorong masyarakat untuk menjaga kelestarian kawasan pesisir dan laut.
Ekowisata bahari tentunya memiliki banyak dampak positif antara lain meningkatnya upaya pelestarian lingkungan, meningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan juga devisa Negara. Akan banyak ketersedian lapangan kerja baru dan berkembangnya usaha-usaha baru. Dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan wisatawan tentang pentingnya konservasi sumber daya alam. Peningkatan partisipasi masyarakat dan meningkatkannya pertumbuhan ekonomi lokal. Meningkatnya promosi penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan dan berkurangnya ancaman terhadap keanekaragaman hayati yang ada di obyek wisata. Ada pula dampak negative yang diberikan, misalnya masyarakat hanya memperoleh hasil sekitar 10% dari kegiatan wisata.
Kabupaten Majene adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Majene. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 947,84 km² dan berpenduduk sebanyak 138.825 jiwa. Wilayah Kabupaten Majene ini merupakan wilayah pesisir dengan garis pantai terpanjang di Provinsi Sulawesi Barat. Tentunya ini menjadi kekhasan tersendiri dengan berjejernya pantai-pantai yang indah dan kaya akan bioat laut. Salah satu pantainya yang terkenal yaitu pantai Datoq, yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Majene. Pantai Datoq ini memiliki pasir putih dengan tebing-tebing sebagai pembatas, yang tingginya berkisar 6-8 m. Dan pantai Datoq ini masih terjaga, dapat dilihat dari ekosistem terumbu karang yang 90% masih baik begitupun dengan ekosistem padang lamunya. Bahkan penyu sisik hijau masih setia untuk bertelur ditempat ini.
Ekosistem mangrove, terumbu karang, dan lamun mempunyai keterkaitan ekologis (hubungan fungsional), baik dalam nutrisi terlarut, sifat fisik air, partikel organik, maupun migrasi satwa, dan dampak kegitan manusia. Oleh karena itu apabila salah satu ekosistem tersebut terganggu, maka ekosistem yang lain juga ikut terganggu. Yang jelas interaksi yang harmonis antara ketiga ekosistem ini harus dipertahankan agar tercipta sebentuk sinergi keseimbangan lingkungan.
Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem yang sangat penting dalam wilayah pesisir. Ekosistem ini memiliki fungsi ekologis yakni sebagai tempat pemijahan ikan, sebagai tempat mencari makan ikan kecil dan memelihara ikan kecil. Bukan hanya itu saja, ekosistem ini juga memiliki fungsi bagi kehidupan manusia seperti kayu mangrove yang dapat dijadikan kayu bakar pembuatan arang, untuk berbagai perabot rumah tangga, bahan kostruksi bangunan, obat-obatan, dan sebagai bahan industri kertas. Dan ekosistem mangrove sendiri dapat menjadi pengahalang alami jika Tsunami terjadi, juga proteksi dari abrasi/erosi, gelombang atau angin kencang.
Dari gambar di samping terlihat ekosistem mangrove yang masih sangat bersih dan alami, bahkan masih sangat terjaga. Ekosistem mangrove ini berada di wilayah Kota Majene, Kelurahan Baurung tepatnya di lingkungan Tamoq. Dan menurut saya ekosistem mangrove ini dapat dijadikan sebagai ekowisata bahari, agar ekosistem ini dapat terjaga dengan baik, khususnya untuk fungsi ekologisnya.
Pada ekosistem lamun, juga menjadi tempat memijah beberapa biota terumbu karang, seperti ikan baronang dan beberapa jenis bintang laut. Lamun juga merupakan makanan bagi penyu. Biota dari padang lamun juga bisa menjadi makanan bagi biota terumbu karang, karena terkadang, biota dari padang lamun, baik secara sengaja atau tidak bisa ke ekosistem terumbu karang.
Di pantai Datoq juga memilki ekosisitem padang lamun yang masih asri, bahkan padang lamun ini juga terdapat di sekitar wilayah lingkungan Tamo. Tak heran jika masih ada penyu yang tinggal disekitar pantai Datoq ini.
Kerusakan pada ekosistem lamun bisa mengakibatkan kerusakan atau berkurangnya tutupan terumbu karang. Hal ini bisa berakibat kepada kesehatan ekosistem terumbu karang. Dan jika ekosistem terumbu karang.ini rusak maka akan menyebabkan rumah bagi ikan-ikan kecil akan hilang. Sehingga tentunya akan berdampak pada hasil tangkapan nelayan.
Ekosistem terumbu karang juga memberi manfaat langsung bagi kehidupan manusia. Selain karena ekosistem terumbu karang ini sangat memikat hati karena memilki warna warni yang beragam juga menjadi rumah bagi ribuan jenis hewan laut. Disini pula sebagian jenis hewan laut berkembang biak, membesarkan anak - anaknya serta mencari makan. Bagaikan tembok raksasa yang kokoh, Terumbu Karang melindungi pantai dari gempuran ombak yang dapat menyebabkan erosi dan rusaknya pantai. Bagaikan tumbuhan di darat, Terumbu Karang menghasilkan oksigen (02) yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup di perairan juga menyediakan bermacam - macam jenis ikan, udang dan kerang - kerangan yang dapat kita gunakan sebagai bahan makanan. Bagaikan taman yang indah, Terumbu Karang merupakan tempat yang sangat menarik untuk di kunjungi.
Maka dari itu kita sangat wajib menjaga ekosistem terumbu karang ini. Terkhusus di pantai Datoq yang memiliki terumbu karang yang tidaklah kalah dengan daerah kabupaten Wakatobi. Selain untuk menjaganya, kitapun tentu dapat memanfaatkannya secara maksimal. Di bawah ini merupakan gambar dari terumbu karang yang ada di pantai Datoq, dengan seorang freediver (penyelam bebas) dari komunitas MANDAR UNDERWATER yang menikmati indahnya pemandangan bawah laut pantai Datoq.
Konsep ekowisata bahari menitikberatkan pada empat point yaitu untuk menjaga kelestarian alam (Konservasi alam), mendidik dengan pengetahuan umum yang diberikan, budaya yang akan terjaga dan akan berdampak pada peningkatan sektor ekonomi masyarakat sekitar. Namun konsep ekowisata bahari ini hanya dapat berjalanan dengan baik jika kerja sama antar pemuda daerah (masyarakat), pemerintah daerah dan para akademisi berjalan dengan harmonis.
Bekerja sama dengan nelayan sekitar pun tentu akan sangat penting.!!! Mengapa?? Karena nelayanlah yang setiap harinya berada di laut untuk mencari rezeki bagi keluarganya. Nah,,, kemudian saya berpikir alangkah bijaknya jika nantinya nelayanlah yang akat diangkat menjadi tenaga kerja jika Ekowisata Bahari ini akan terwujud.
Jenis kegiatan yang dapat dilakukan pada ekowisata bahari di sekitar pantai Datoq sampai lingkungan Tamoq yakni olahraga pantai seperti volly pantai, rekreasi pantai, snorkeling dan selam. Namun kita juga patut memperhitungkan luas wilayah dan waktu yang dihabiskan pengunjung dilokasi wisata untuk melakukan wisata. Agar tidak terjadi penumpukan yang dapat mengakibatkan kerusakan pada alam dan manusia.
Untuk ekosistem terumbu karang di pantai Datoq, tentu wisata yang dilakukan adalah snorkeling, freediving dan diving. Teman –teman dari komunitas MANDAR UNDERWATER  sudah tidak asing lagi dengan pemandangan bawah laut di pantai Datoq. Berbagai jenis biota laut dapat ditemukan di daerah ini. Namun alangkah baiknya jika dilakukan konservasi alam, misalnya transplantasi karang ataupun pembersihan sampah-sampah plastik yang melekat pada terumbu karang. Kemudian masyarakat sekitar dapat menyediakan jasa peminjaman alat dasar snorkeling, nah tentunya ini akan berdampak pada sektor ekonomi masyarakat. Belum lagi dengan adanya souvenir yang terbuat dari karang-karang mati yang tentunya akan bernilai ekonomis.
Berbeda dengan ekosistem padang lamun dan mangrove yang ada disekitar lingkungan Tamoq. Boleh berjalan kaki menikamati rimbunya ekosistem mangrove ditemani dengan pemandu wisata dengan pengetahuan yang mendidik, mengambil beberapa gambar, atau duduk beristirhat. Boleh juga naik lepa-lepa untuk menikmati ekosistem padang lamun atau sunset, seperti yang dilakukan teman saya dari komunitas MANDAR UNDERWATER, lagi-lagi dengan memberdayakan masyarakat (nelayan) disekitar pantai tersebut.
Masih banyak lagi manfaat yang dihasilkan dari ekowisata bahari ini, misalnya dalam melestarikan budaya dengan menggunakan perahu Sandeq untuk mengelilingi ekosisitem yang masih terjaga di pantai Datoq dan di lingkungan Tamoq. Kemudian dari segi pendidikan, para pelajar maupun masyarakat dapat melihat langsung ekosistem yang masih asri dan akan tahu dampaknya jika ekosistem ini hilang. Untuk masyarakat sekitar dapat membuat souvenir ataupun penyewaan alat dasar snorkeling. Pada akhirnya banyak yang akan membangun aksesbilitas dan infrastruktur seperti viila dan penginapan agar ekowisata bahari di “Kota Tua” ini menjadi layak.
Jika pemerintah Kabupaten Mejene fokus mengelolah sektor pariwisata bahari seperti dengan melakukan penyuluhan kepada masyarakat dan aktif bekerja sama dengan para akademis. Tentunya akan berdampak positif bagi seluruh kalangan. Karena ekowisata bahari itu sendiri dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), meningkatkan lapangan kerja sehingga ekonomi masyarkat meningkat. Kemudian sumber daya pesisir dan laut dan terjaga dan dikelolah dengan baik, begitupun dengan kebudayaan maritimnya. Maka bukan tidak mungkin Kabupaten Majene dapat menjadi pesaing dari kabupaten Wakatobi yang saat ini menjadi cagar budaya biosfer di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar