Minggu, 22 Maret 2015

UNDAK KONTINEN



TUGAS INDIVIDU
MAKALAH GEOLOGI LAUT





UNDAK KONTINEN


DI SUSUN OLEH:

NAMA  : ADE HERMAWAN
NIM       : L111 13 512



JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015


KATA PENGANTAR

Puji sukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang maha kuasa karena atas limpahan taufik dan hidayahnya yang memberi kenikmatan yang tiada henti, baik nikmat jasmani dan nikmat rohani, sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang insyaalah sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam penuliasan makalah ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, dosen dan teman-teman yang sudah memberi dukungan dan motivasi kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Akhiranya tiada gading yang tak retak, diharapkan saran konsruktif dari berbagai pihak untuk perbaikan makalah ini. Tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan baik dalam pemahaman atau penulisan, sangat besar harapan penulis ada saran atau kritik dari dosen di Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar . Semoga makalah ini bermanfaat bagi teman-teman dan pembaca dan yang terpenting semoga makalah ini mendapat ridha dan barokah dari Allah SWT yang maha kuasa, amin.


Penulis 07 maret 2015
Penulis .


DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………………………………
Daftar Isi ……………………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………...
A.  Latar Belakang ……………………………………………………………..
B.  Rumusan Masalah ………………………………………………………….
C.  Tujuan dan Manfaat ………………………………………………………..
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………
A.  Pengertiaan Daratan dan Lautan ……………………………………………
B.  Faktor Pembentuk Muka Bumi di Daratan dan Lautan …………………..
1.        Tenaga Endogen …………………………………………………
2.        Tenaga Eksogen ……………………………………………………
C.  Proses dan Karakteristik Undak Kontinen ……………..………………...
3.        Karakteristik Laut ………………………………………………....
4.        Karakteristik Pegunungan …………………………………………
5.        Pembentukan Dataran Rendah ……………………………………
BAB III PENUTUP …………………………………………………………….….....
A.  Kesimpulan …………………………………………………………….....
B.  Saran …………………………………………………………………...….
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………..….
I
ii
3
3
4
4
5
5
7
7
8
9
9
11
16
18
18
18
19



BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bumi terbentuk sekitar 4,54 miliar (4,54×109) tahun yang lalu melalui akresi dari nebula matahari. Pelepasan gas vulkanik diduga menciptakan atmosfer tua yang nyaris tidak beroksigen dan beracun bagi manusia dan sebagian besar makhluk hidup masa kini. Sebagian besar permukaan Bumi meleleh karena vulkanisme ekstrem dan sering bertabrakan dengan benda angkasa lain. Sebuah tabrakan besar diduga menyebabkan kemiringan sumbu Bumi dan menghasilkan Bulan. Seiring waktu, Bumi mendingin dan membentuk kerak padat dan memungkinkan cairan tercipta di permukaannya. Bentuk kehidupan pertama muncul antara 2,8 dan 2,5 miliar tahun yang lalu. Kehidupan fotosintesis muncul sekitar 2 miliar tahun yang lalu, nan memperkaya oksigen di atmosfer. Sebagian besar makhluk hidup masih berukuran kecil dan mikroskopis, sampai akhirnya makhluk hidup multiseluler kompleks mulai lahir sekitar 580 juta tahun yang lalu. Pada periode Kambrium, Bumi mengalami diversifikasi filum besar-besaran yang sangat cepat.
Perubahan biologis dan geologis terus terjadi di planet ini sejak terbentuk. Organisme terus berevolusi, berubah menjadi bentuk baru atau punah seiring perubahan Bumi. Proses tektonik lempeng memainkan peran penting dalam pembentukan lautan dan benua di Bumi, termasuk kehidupan di dalamnya. Biosfer memiliki dampak besar terhadap atmosfer dan kondisi abiotik lainnya di planet ini, seperti pembentukan lapisan ozon, proliferasi oksigen, dan penciptaan tanah.
Daratan adalah bagian dari permukaan bumi yang tidak digenangi air. Wilayah yang termasuk daratan meliputi pegunungan, perbukitan, dataran, dan lembah. Bumi banyak mengandung air. Permukaan daratan pun ada yang tergenang air dan ada yang kering. Bagian daratan yang kering adalah padang pasir, dataran rendah, dataran tinggi, dan pegunungan. Bagian daratan yang tergenang air, misalnya rawa, danau, dan sungai.
Laut merupakan perairan yang terletak di tepi samodera, diantara samodera dan benua atau benua dan benua, serta berada di pedalaman benua. Macam- macam  laut antara lain Laut Tepi (Marginal Sea) merupakan laut dengan kedalaman berkisar 100 sampai 200 meter dan terletak di tepi benua, dipisahkan dari samodera oleh rangkaian kepulauan (archipelago).  Laut tepi lazim disebut sebagai paparan (shelf).Laut Tengah (Mediteran Sea) merupakan laut dengan kedalaman > 1000 meter dan terletak antara benua dengan samodera atau antara benua dengan benua yang dihubungkan oleh selat.Laut Pedalaman (Interior Sea) merupakan laut dengan kedalaman >  200 meter, dan terletak  di pedalaman / tengah benua.

B.     Rumusan Masalah
1.       Bagaimana proses pembentukan daratan dan lautan sehingga adanya undak kontinen dipermukaan bumi?
2.       Apa saja proses dan karakteristik yang terbentuknya undak kontinen dipermukaan bumi?

C.    Tujuan dan Manfaat
1.       Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana proses pembentukan daratan dan lautan sehingga adanya undak kontinen dipermukaan bumi?
2.       Mahasiswa mampu memahami bagaimana proses dan karateristik terbentuknya undak kontinen dipermukaan bumi?




BAB II PEMBAHASAN
A.    Proses Terbentuknya Daratan dan Lautan
Proses pembentukan lautan berdasarkan teori laplace (kabut) berawal dari proses pembentukan bumi yang mana, menurut laplace, bumi terbentuk 4 miliar tahun yang lalu, karen pembentukan bumi berawal dari pengerutan matahari yang mengakibatkan, bagian dari matahari terlepas, sehingga terlempar keluar dan saling tabrakan, akhirnya terbentuklah planet, salah satunya planet bumi, karena pada saat itu gravitasi bumi sangat kuat sehingga menarik asteroid, sehingga terjadi tabrakan. dengan adanya tabrakan yang cukup banyak dan dashyat, akhirnya terbentuklah kawah kawah, dari kawah itulah mul;ai terbentuk lautan, di mana pada awalnya, karena bumi di selimuti oleh kabut sehingga bumi mengalami pembekuan, setelah tak lama kemudian debu yang menyelimuti bumi menghilang dan sinar matahri dapat tembus, mengakibatkan terjadinya kondensasi uap air yang ada, dan mulai turun hujan, hujan yang berlalu sangat lama ini mengakibatkan kawah yang terbentuk tadi terisi oleh air.
Pada awalnya, laut bersifat sangat asam (dengan suhu sekitar 100 °c) hal ini disebabkan oleh keadaan bumi yang sangat panas dan keadaan atmosfer bumi yang dipenuhi oleh karbondioksida. Pada saat itu juga, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid menghantam bumi disertai fenomena pasang surut air laut yang begitu cepat terjadi karena jarak bulan yang begitu dekat dengan bumi.
Kemudian, secara perlahan-lahan jumlah karbondioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar matahari dapat kembali masuk menyinari bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, hal inilah yang menyebabkan air laut kini semakin asin.
Dengan adanya air laut yang disebabkan oleh fenomena alam pada 4,4 milyar tahun lalu (seperti sudah dijelaskan di atas) bumi kemudian mengalami perubahan bentuk daratan.
Contoh kasus: “Terpisahnya Benua Amerika dari Eropa dan Afrika”. Hal ini juga terjadi dibeberapa rekam kejadian alam sebelumnya yang mencatat bahwa sebelumnya daratan di bumi saling menyatu. Animasi menjelaskan perubahan bentuk daratan di bumi hingga saat ini. Pergeseran bentuk bumi (menurut para ahli geologi) juga disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik yang mengakibatkan keretakan pada daratan dibumi.
Proses terbentuknya daratan tidak lepas dari proses terbentuknya planet bumi yang merupakan salah satu benda langit yang terbentuk dari awan/gas/asap langit kemudian bumi itu berupa bintang yang sangat kecil karena proses tekanan antar material pembentuk yang mempunyai tekanan (gravitasi) kearah memusat (Inti bumi) sehingga menimbulkan pijaran panas memancar dilangit.
Kemudian saat melewati beberapa proses benda langit yang akhirnya diketahui bernama bumi (yang saat itu masih berupa bola pijar) mulai mendingin (karena suhu ruang langit sangat dingin, karena jaraknya jauh dari sumber panas (matahari), maka bumi yang termasuk jauh dari matahari dan menerima kualitas panas Matahari lebih rendah daripada planet yg lebih dekat, sehingga lebih dulu mendingin dan membeku menjadi es, bagian luar (kulit) bumi membentuk dasar tanah, air & atmosfer (terjadi karena siklus alam). Selanjutnya mengalami (siklus) gejolak dari inti bumi yang mengarah keluar ke permukaan bumi (gunung berapi) atau membentuk aktivitas vulkanik & tektonik dari gunung berapi pada dasar tanah yang baru terbentuk itu.
Aktivitas inti bumi menimbulkan banyak terbentuk gunung berapi yang memancarkan meterial dari inti bumi membentuk tanah daratan, sehingga dasar tanah dan tanah daratan yang terbentuk selama proses aktivitas planet bumi (siklus tanah bumi) akan menimbulkan lempeng benua. Relief tanah lempeng benua terbentuk karena siklus alam, tanah mempunyai jenis, berat, masa jenis & kandungan material yang berbeda dan menekan ke inti bumi (gravitasi bumi) menimbulkan tekanan besar menghasilkan panas inti bumi.
Bentuk relief daratan lempeng benua sebagian besar terbentuk karena proses siklus hidrologi global dalam jumlah besar (pada masa itu terjadi banjir gadang berupa air bah yang menutupi permukaan planet bumi karena es mencair dalam jumlah besar) sehingga 2/3 lebih permukaan bumi hampir ditutupi oleh air yang seperti pada samudera altantik utara ke selatan telah mengikis memotong tanah antara benua Amerika, Eropa & Afrika dalam jumlah sangat besar yang bentuknya seperti bentuk pola aliran sungai raksasa.
Pada akhirnya relief lempengan daratan benua terbentuk, karena bergeser membentuk pecahan benua. Daratan seperti yang kita kenal bentuknya seperti sekarang ini kemungkinan untuk berubah lagi (secara extrim) sangat kecil karena bobot lempengan tanah daratan benua sangat berat & tekanannya ke inti bumi sangat kuat, dan pergeserannya sangat kecil.
B.     Faktor Pembentuk Muka Bumi di Daratan dan Lautan
1.      Tenaga Endogen
Tenaga Endogen juga bisa disebut juga tenaga tektonik. Tenaga Endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga Endogen terdiri dari proses diatropisme dan proses vulkanisme. Tenaga Endogen sering menekan di sekitar lapisan-lapisan batuan pembentuk kulit bumi (litosfer).
·         Proses Diastropisme
       Proses Diastropisme adalah proses strutual yang mengakibatkan terjadinya lipatan dan patahan tanpa dipengaruhi magma tapi tenaga dari dalam bumi.
·         Proses lipatan
       Jika tenaga endogen yang menekan litosfer arahnya mendatar dan bertumpukan yang mengakibatkan permukaan bum melipat menybabkan terbentuknya puncak dan lembah.Bentuk permukaan bumi dari hasil proses ini ada dua, yaitu : puncak lipatan (antiklin), lembah lipatan (sinklin).
·         Proses Patahan
Proses datropisme juga dapat menyababkan truktur lapisan-lapian batuan retak-retak dan patah. Lapiasan batuan yang mengalami proses patahan ada yang mengalami pemerosotan yang membentuk lemdh patahan dan ada yang terangkat membentuk puck patahan. Lembah patahan disebut slenk atau graben sedangkan puncak patahan dinamakan horst.
·         Vulkanisme
Tenaga tektonik dapat mengakibatkan gejala vulaknisme. Gejala vulkanisme berhubungan dengan aktivtas keluarnya magma di gunungapi. Proses keluarnya magma ke permukaan bumi disebut erupsi gunungapi. Proses vulkanisme terjadi karena adanya magma yang keluar dari zona tumbukan antarlampang. Beberapa gunugapi ditemukan berada di tengah lempeng yang disebsbkan oleh tersumbatnya panas di kerak bumi gejala ini disebut titik panas (hotspot).Para ilmuan menduga aliaran magma mendesak keluar membakar kerak bumi dan melutus di permukaan.
2.      Tenaga Eksogen
Tenaga eksogen yaitu tenaga yang berasal dari luar bumi. Sifat umum tenaga eksogen adalah merombak bentuk permukaan bumi hasil bentukan dari tenaga endogen.Secara umum tenaga eksogen berasal dari 3 sumber, yaitu:
• Atmosfer, yaitu perubahan suhu dan angin.
• Air yaitu bisa berupa aliran air, siraman hujan, hempasan gelombang laut, gletser, dan sebagainya. Organisme yaitu berupa jasad renik, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
Di permukaan laut, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta sedimentasi. Misalnya di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme atau vulkanisme. Mula-mula bukit dihancurkannya melalui tenaga pelapukan, kemudian puing-puing yang telah hancur diangkut oleh tenaga air, angin, gletser atau dengan hanya grafitasi bumi.
Contoh lain dari tenaga eksogen adalah pengikisan pantai. Setiap saat air laut menerjang pantai yang akibatnya tanah dan batuannya terkikis dan terbawa oleh air. Tanah dan batuan yang dibawa air tersebut kemudian diendapkan dan menyebabkan pantai menjadi dangkal. Di daerah pegunungan bisa juga ditemukan sebuah bukit batu yang kian hari semakin kecil akibat tiupan angin.
·         Pelapukan.
Pelapukan merupakan tenaga perombak (pengkikisan) oleh media penghancur. Proses pelapukan dapat dikatakan sebagai proses penghancuran massa batuan melalui media penghancuran, berupa: Sinar matahari, Air, Gletser,Reaksi kimiawi, Kegiatan makhluk hidup (organisme)
·         Erosi
Erosi seperti pelapukan adalah tenaga perombak (pengkikisan). Tapi yang membedakan erosi dengan pelapukan adalah erosi adalah pengkikisan oleh media yang bergerak, seperti air sungai, angin, gelombang laut, atau gletser. Erosi dibedakan oleh jenis tenaga perombaknya yaitu :Erosi air, Erosi angin (deflasi), Erosi gelombang laut (abarasi / erosi marin ), Erosi gletser (glasial).

C.    Proses dan Karakteristik Undak Kontinen
1.      Karakteristik Laut
Kepulauan Indonesia terbentuk oleh proses (endogen) rumit geologi dari gejala konvergensi lempeng (litosfer) menghasilkan bentang alam (fisiografi) yang sangat kompleks. Demikian halnya dengan pantai pulau-pulaunya, terbentuk seiring evolusi geologi dengan ciri masing-masing berdasar proses dan mandala geologinya, yang kemudian terlihat pada keragaman jenis batuan, struktur dan kelurusan, lereng pantai dan perairan bentuk muara sungai dan lain-lain bagian bentang pantai. Kondisi iklim/cuava (atmosfer) dan laut (biosfer) mengiringi evolusi tersebut memberi pengaruh (eksogen) pada proses pembentukan bentang alam. Kegiatan manusia (biosfer) mulai ikut berpengaruh pada proses evolusi mengubah bentang alam melalui upaya (anthropogenic) mengubah lingkungan untuk kepentingannya sejak zaman Anthroposen.
Berdasarkan kenyataan demikian, klasifikasi wilayah pesisir dan pantai di Indonesia akan lebih sempurna bila didasarkan atas beberapa hal yang menyangkut proses pembentukan (genesa) dan perubahannya yang melibatkan unsur-unsur di atas. Berdasar klasifikasi ini, dapat lebih mudah mengenali sifat dan potensi hingga kerawanan yang dimilikinya, yang bermanfaat sebagai dasar dalam upaya pengelolaannya berdasar keseimbangan dan kelestarian, di masa yang akan datang. Suatu pengkelasan pantai berdasar genesa, morfologi serta kondisi perairannya diusulkan sebagai berikut, mengikuti kriteria-kriteria:
Penunjaman (Subduction): Gerak relatif kerak Samudra Hindia dan benua Australia ke utara menghasilkan penunjaman di bawah Sumatra, Jawa dan sebagian Sunda Kecil (NTB). Penunjamann dicirikan oleh palung dalam samudra, lereng depan curam, jalur busur luar dan jalur volkanik. Pesisir dan pantai jalur ini umumnya dibentuk oleh perbukitan terjal dengan tebing lereng depan curam tanpa tutupan tumbuhan.
Ciri morfologi pantai dan pesisir lainnya adalah tebing curam perbukitan pantai, erosi dan abrasi kuat pada tebing curam. Pantai datar berpasir relatif lurus dengan asupan sedimen dari sungai kadang membentuk bukit pasir (sand dune) dengan selingan rawa. Pola aliran sungai hampir tegak lurus pantai dengan gradient tebing curam lambah sungai. Kegempaan kuat dan sering kejadiannya, adakalanya diikuti tsunami. Penenggelaman bergantian dengan pengangkatan pantai atau terumbu karang mengiringi proses penunjaman. Curah hujan tinggi dan gejala geologi di kawasan ini memberikan bentang alam dengan tebing dan lereng curam.
Tumbukan (collision): Gerak lempeng yang saling bertumbukan menghasilkan batuan yang tercampur aduk (chaotic) yang terkerat kuat oleh struktur geologi patahan dan rekahan. Proses tumbukan dapat diamati hasilnya di kawasan antara Flores hingga Wetar sebagai sisa jalur volkanik dengan ciri pantai kaki volkanikdengan tutupan batu gamping terangkat, Sumba sebagai busur luarnya denganmorfologi pantai teras terumbu terangkat, dan jalur Sabu-Rote dan Timor sebagai jalur tumbukan dengan ciri pantai curam serta singkapan batu gamping terangkat dengan terobosan lumpur endapan tua. Contoh kota di jalur ini adalah: Kupang, Waingapu, Baa, dll
Gerakan LateralJenis konvergensi yang menghasilkan batas pertemuan dari lempeng yang saling geser ini di Indonesia tidak begitu mudah dilihat gejalanya didaratan, kecuali di kepala burung Irian Jaya yang menghasilkan sesar geserSorong dengan pegunungan terjal menghadap langsung ke laut membentuk pantai curam berbukit. Patahan dan rekahan menandai jalur ini menyebabkan batuan pantai bertebing curam bertambah rentan longsor dan terabrasi. Pantai di jalur ini umumnya sangat labil dan rawan bencana, mengingat kegempaan juga relatif tinggi (gempa dan tsunami di. P Biak). Contoh kota di mandala ini: Biak, Manokwari, Sorong
Pantai terangkat dan tenggelamJenis pantai yang mengalami pengangkatan dan penuruan dapat ditemukan di berbagai pulau di kawasan yang saat ini berada pada jalur aktif tektonik yang menghasilkan gerak tegak, di jalur tumbukan atau penunjaman. Di darat, gejala ini terlihat di pantai yang bertutupan tumbuhan adalahtenggelamnya sebagian tumbuhan (Cassuarina sp, mangrove, dll) atau bentukkhusus terumbu karang yang menandai gejala ini (out side stepping) dan gejala erosi pantai. Adanya pengangkatan dapat terlihat dari bentuk undak teras pantai dan adanya akresi pantai sementara munculnya terumbu karang membentuk daratan merupakan tanda di bagian perairan. Penurunan daratan dapat diakibatkan oleh adamya kompaksi endapan di pesisir, atau memang ada gejala kenaikan permukaan air laut. Contoh kota di pulau ini adalah: Waingapu (Sumba), Tuah Pejat (Mentawai)


2.      Karakteristik Pegunungan
Dalam ilmu kebumian dikenal teori tektonik lempeng. Menurut teori ini, Bumi terdiri atas lempeng-lempeng yang terus bergerak (gambar 1a). Lempeng merupakan gabungan dari dua lapisan kulit Bumi. Bumi, seperti yang terlihat pada gambar 1b di bawah, terdiri dari lapisan inti (core), mantel (mantle) dan kerak (crust).
Lempeng-lempeng di Bumi
Gambar 1a) Lempeng-lempeng Bumi, warna merah menunjukkan jalur pegunungan dan gunung api
Inti Bumi terbagi menjadi inti dalam yang berupa besi padat dan inti luar yang cair. Temperatur pada inti diperkirakan sebesar 4300°C dengan kedalaman 2900-5200 km. Di atasnya terdapat lapisan mantel yang terletak pada kedalaman sekitar 2900 km, yang temperaturnya berkisar antara 1000-3700°C. Lapisan ini juga bersifat cair namun lebih kental daripada inti luar. Pada lapisan mantel terjadi arus konveksi yang menggerakkan kerak di atasnya.
Di bagian terluar Bumi terdapat lapisan kerak yang relatif dingin, padat, dan tipis (paling tebal 30 km). Kerak terbagi lagi menjadi kerak benua dan kerak samudera. Densitas kerak samudera lebih tinggi dibandingkan kerak benua. Akan tetapi, kerak benua relatif lebih tebah dibandingkan kerak samudera. Mantel bagian atas dan kerak inilah yang membentuk lempeng.
 Di Bumi terdapat sekitar 5 lempeng besar dan beberapa lempeng kecil. Kelima lempeng besar tersebut adalah Lempeng Pasifik, Lempeng Afrika, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Antartika. Lempeng-lempeng tersebut sepanjang tahun terus bergerak dan berinteraksi di perbatasannya. Interaksi ini dapat berupa interaksi konvergen, divergen atau persinggungan (transform).
Pada interaksi konvergen, terjadi tabrakan antar lempeng dan kemudian salah satu lempeng menunjam (membenam) ke bawah lempeng lainnya. Jika tabrakan terjadi di laut, akan terbentuk palung pada sepanjang batas antara kedua lempeng. Lempeng yang menunjam adalah lempeng yang lebih berat (densitasnya lebih tinggi), yang biasanya adalah lempeng samudra. Ketika mencapai mantel, lempeng yang menunjam ini mengalami pelelehan sebagian (partial melting). Lelehan lempeng ini merupakan bahan baku magma.
Pada interaksi divergen yang umumnya terjadi di tengah dasar samudera, lempeng-lempeng saling memisah akibat dorongan material magma dari dalam mantel. Magma yang mendorong lempeng sebagian muncul ke permukaan, membeku dan menghasilkan lempeng baru. Batas antar lempeng dalam interaksi divergen, ditandai dengan adanya punggungan tengah samudera (mid-oceanic ridge). Punggungan ini sebenarnya adalah rangkaian gunung api tempat keluarnya magma yang membentuk lempeng baru. Namun gunung-gunung api ini relatif tidak berbahaya karena jauh dari permukiman manusia.
Sedangkan pada interaksi persinggungan, lempeng-lempeng saling bergesekan tanpa membentuk pemekaran maupun penunjaman. Tidak terjadi pelelehan lempeng lama maupun pemunculan lempeng baru.
Dalam interaksi konvergen dan persinggungan, lempeng-lempeng saling bertabrakan atau bergesekan. Tabrakan dan gesekan ini menimbulkan tegangan pada kedua lempeng, mirip dengan yang terjadi pada sepotong penggaris besi yang tegang karena dibengkokkan. Jika penggaris besi itu kembali ke posisi semula, akan terjadi getaran disertai bunyi yang cukup keras.
Jika dibawa ke dalam konteks Bumi, salah satu lempeng akan dibengkokkan oleh desakan lempeng lain. Jika lempeng yang bengkok tersebut kembali ke posisi semula, akan timbul getaran yang dirasakan manusia sebagai gempa Bumi tektonik, disertai patahnya lempeng tersebut. Kuat lemahnya getaran gempa tersebut antara lain bergantung pada kedalaman terjadinya patahan, atau dengan kata lain kedalaman pusat gempa. Selain patah, tabrakan dan gesekan juga memunculkan retakan/rekahan, terutama pada bagian tepi masing-masing lempeng.
Rekahan yang timbul akan menjadi saluran lewatnya magma dari dalam mantel. Magma kemudian keluar ke permukaan, membeku, terkumpul dan tertimbun membentuk gunung api. Inilah salah satu mekanisme terbentuknya gunung di batas lempeng. Mekanisme lain adalah bagian lempeng yang tidak terbenam terlipat atau menggumpal ke atas membentuk tonjolan pegunungan. Kondisi ini mirip dengan kejadian karpet yang terlipat ke atas ketika tepinya ”menabrak” dinding atau lemari.
Gunung yang terbentuk di batas lempeng konvergen terbagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe himalaya, tipe busur vulkanik dan tipe busur kepulauan.
Tipe Himalaya merupakan rangkaian pegunungan yang terbentuk akibat tumbukan lempeng benua dengan lempeng benua. Salah satu lempeng terlipat, dan menonjol ke atas. Lempeng benua yang lain menunjam ke bawah. Karena ketebalannya, lempeng benua meleleh pada kedalaman yang cukup besar. Magma yang terbentuk dengan demikian sangat dalam, sehingga tidak mampu mencapai permukaan. Contoh tipe ini adalah Pegunungan Himalaya.
\
Gambar 2a) Pegunungan tipe Himalaya
Tipe busur vulkanik adalah rangkaian gunung api yang terbentuk akibat tumbukan lempeng samudera dengan benua. Lempeng samudera menunjam ke bawah lempeng benua. Karena relatif tipis, lempeng samudera meleleh pada kedalaman dangkal. Magma yang dihasilkannya dengan begitu lebih mudah muncul ke permukaan. Contoh tipe ini adalah pegunungan di selatan Pulau Jawa.
\
Gambar 2b) Pegunungan tipe busur vulkanik
Tipe busur kepulauan adalah deretan gunung api yang membentuk kepulauan. Contoh tipe ini adalah kepulauan di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Pembentukan busur kepulauan mirip dengan tipe busur vulkanik. Bedanya, kedua lempeng yang bertumbukan pada tipe ini adalah lempeng samudera.
\
Gambar 2c) Pegunungan tipe busur kepulauan
Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa gunung pada umumnya terbentuk dan berada di daerah batas antar lempeng yang terus bergerak, khususnya di batas interaksi konvergen dan divergen. Pada batas interaksi konvergen (tipe himalaya, busur vulkanik dan busur kepulauan), gunung-gunung tersebut mampu meredam guncangan akibat tabrakan antar lempeng.
Kemampuan ini muncul karena gunung memiliki massa dan ketebalan yang sangat besar. Kemampuan gunung tersebut lebih dibutuhkan lagi di daerah busur vulkanik dan kepulauan seperti Indonesia. Sebagaimana telah disinggung di atas, lempeng yang menunjam pada kedua tipe tersebut umumnya tipis. Karena tipis, selain lebih mudah meleleh, lempeng juga lebih mudah patah pada kedalaman dangkal. Akibatnya, Di daerah-daerah tersebut, pusat-pusat gempa umumnya dangkal (kedalaman <33 km) sehingga energi guncangannya relatif besar dan sangat membahayakan kehidupan manusia.
Oleh karena itu, daerah pegunungan (apalagi di daerah kepulauan seperti Indonesia) adalah daerah yang berbahaya untuk dijadikan permukiman. Tempat yang relatif aman adalah daerah di balik gunung, yang jauh dari zona interaksi antar lempeng. Meskipun terjadi guncangan, kekuatannya sudah jauh berkurang karena teredam oleh oleh gunung tersebut.
Di luar batas lempeng konvergen maupun divergen, gunung api sebenarnya juga muncul di sejumlah lokasi lain. Lokasi-lokasi tersebut tidak terletak di batas lempeng manapun, malahan berada di di tengah-tengah lempeng. Contohnya adalah di jantung benua Afrika, atau di rangkaian Kepulauan Hawaii. Gunung-gunung api di sana dekat dengan wilayah permukiman manusia, namun jauh dari batas lempeng apapun (konvergen, divergen, atau persinggungan). Karena jauh dari batas lempeng, gunung-gunung tersebut sama sekali tidak berfungsi meredam guncangan.
Gunung-gunung di jantung Afrika maupun Kepulauan Hawaii muncul sebagai akibat fenomena hotspot. Terdapat l.k. 40 titik hotspot di seluruh permukaan Bumi. Salah satu teori yang berkembang menyebutkan bahwa hotspot muncul karena adanya saluran sempit yang meloloskan material panas dari perbatasan inti bumi dan mantel. Teori lain menjelaskan bahwa hotspot tidak lain terjadi karena aliran konveksi material mantel, aliran yang juga menyebabkan pergerakan lempeng. Sampai saat ini para ilmuwan belum bisa sepenuhnya menjelaskan fenomena ini.


3.      Pembentukan Dataran Rendah
Proses pembentukan gunung berlangsung menurut skala tahun geologi yaitu berkisar antara 45 450 juta tahun yang lalu. Misalnya pegunungan Himalaya terbentuk mulai dari 45 juta tahun yang lalu, sedangkan pegunungan Appalache terbentuk mulai dari 450 jutan tahun yang lalu.
Model terjadinya gunung mengalami tiga tingkatan proses, yaitu:
·         Akumulasi sedimen: lapisan lapisan sedimen dan batuan vulkanik menumpuk sampai kedalaman beberapa kilometer.
·         Perubahan bentuk batuan dan pengangkatan kerak bumi:sedimen yang terbentuk tadi mengalami deformasi karena adanya gaya kompresi akibat tumbukan antar lempeng-lempeng tektonik.
·         Pengangkatan kerak bumi akibat gerakan blok sesar: tumbukan antar lempeng akan mengangkat sebagian kerak bumi sebagai lipatan lebih tinggi dari sekitarnya sehingga terbentuk gunung. Sedangkan jika terjadi gaya tegangan atau tarikan antar lempeng maka akan terbentuk graben (lembah)
Skema Proses Terjadinya Pegunungan Himalaya
http://idkf.bogor.net/yuesbi/e-DU.KU/edukasi.net/Fenomena.Alam/Gunung.Api/image/hal5.jpg
Sebelum terbentuk pegunungan Himalaya , terjadi gerakan lempeng India ke arah lempeng Eurasia. Lempeng India merupakan komposisi batuan yang sangat tua 2-2,5 milyar tahun. Titik referensi yang berwarna kotak merah masih berada dibawah . Setelah mengalami proses tumbukan yang lama antara dua lempeng tersebut maka sebagian dari tepi lempeng India terangkat dimana terlihat kotak merah berubah posisi ke tempat yang lebih tinggi.Sehingga terbentuklah pegunungan Himalaya saat ini.
Skema Pembentukan Dataran Rendah (Graben)
http://idkf.bogor.net/yuesbi/e-DU.KU/edukasi.net/Fenomena.Alam/Gunung.Api/image/hal7.jpg
(Sumber: http://csmres.jmu.edu/geollab/vageol/vahist/mtnmodel.html)
Kulit bumi yang sebelumnya dalam kondisi seimbang, mendapat gaya tektonik yang saling berlawanan arah (gaya regangan) akibat desakan panas ke atas, sehingga menimbulkan retakan (cracking). Proses tektonik ini berlangsung terus menerus dalam jangka waktu geologi yang cukup lama. Blok yang retak menjadi turun akibat gaya tarik gaya berat sehingga terbentuk


BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa daratan dan lautan yang ada saat ini tidaklah muncul begitu saja melainkan melalui proses yang sangat panjang hingga membutuhkan waktu jutaan bahkan milyaran tahun yang lalu. Daratan dan lautan terbentuk oleh tenaga endogen dan eksogen yang ada di bumi. Tenaga endogen yaitu tenaga yang berasal dari dalam bumi berupa proses diatropisme, proses patahan, proses lipatan dan vukanisme. Sedangkan tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi berupa proses pelapukan dan erosi. Dan dalam proses tersebut menghasilkan permukaan bumi yang tidak rata, seperti pegunungan Himalaya, terbentuknya lembah  dan palung mariana dll.

B.     Saran
Bumi yang ada saat ini bukanlah muncul begitu saja tetapi terbentuk melalui proses yang panjang seperti yang telah disebutkan pada kesimpulan tadi, maka dari itu marilah kita bersama-sama menjaga kelestarian dari bumi itu sendiri dengan tidak merusak atau mencemari  segala sesuatu yang ada pada daratan dan lautannya. Karena jika bumi telah rusak maka proses panjang yang telah dilalui tersebut akan menjadi sia-sia saja.


Daftar Pustaka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar