TUGAS INDIVIDU
MAKALAH
GEOLOGI LAUT
UNDAK KONTINEN
DI SUSUN OLEH:
NAMA : ADE
HERMAWAN
NIM : L111 13 512
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN
DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
KATA PENGANTAR
Puji sukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang maha
kuasa karena atas
limpahan taufik dan hidayahnya yang memberi kenikmatan yang tiada henti, baik nikmat jasmani
dan nikmat rohani, sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang insyaalah
sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam penuliasan makalah ini, penulis mengucapkan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, dosen dan teman-teman yang sudah memberi
dukungan dan motivasi kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini.
Akhiranya tiada gading yang tak
retak, diharapkan saran konsruktif dari berbagai pihak untuk perbaikan makalah
ini. Tentunya masih banyak kekurangan dan
kesalahan baik dalam pemahaman atau penulisan, sangat besar harapan penulis ada
saran atau kritik dari dosen di Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan, Universitas
Hasanuddin, Makassar . Semoga makalah ini bermanfaat bagi teman-teman dan pembaca dan yang
terpenting semoga
makalah ini mendapat ridha dan barokah dari Allah SWT yang maha kuasa, amin.
Penulis 07 maret 2015
Penulis .
DAFTAR ISI
|
Kata
Pengantar …………………………………………………………………………
Daftar
Isi ……………………………………………………………………………….
BAB
I
PENDAHULUAN ……………………………………………………………...
A.
Latar Belakang ……………………………………………………………..
B.
Rumusan Masalah ………………………………………………………….
C.
Tujuan dan Manfaat ………………………………………………………..
BAB
II PEMBAHASAN ………………………………………………………………
A.
Pengertiaan
Daratan dan Lautan ……………………………………………
B. Faktor Pembentuk Muka Bumi di Daratan dan Lautan …………………..
1.
Tenaga Endogen ……………………………………………………
2.
Tenaga Eksogen ……………………………………………………
C.
Proses dan Karakteristik Undak Kontinen ……………..………………...
3.
Karakteristik Laut ………………………………………………....
4.
Karakteristik
Pegunungan …………………………………………
5.
Pembentukan Dataran Rendah ……………………………………
BAB
III PENUTUP …………………………………………………………….….....
A.
Kesimpulan …………………………………………………………….....
B.
Saran …………………………………………………………………...….
DAFTAR
PUSTAKA ……………………………………………………………..….
|
I
ii
3
3
4
4
5
5
7
7
8
9
9
11
16
18
18
18
19
|
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bumi terbentuk sekitar
4,54 miliar (4,54×109) tahun yang lalu melalui akresi dari nebula matahari. Pelepasan gas vulkanik diduga menciptakan atmosfer tua yang nyaris tidak beroksigen dan beracun bagi manusia dan
sebagian besar makhluk hidup masa kini. Sebagian besar permukaan Bumi meleleh
karena vulkanisme ekstrem dan sering bertabrakan dengan benda angkasa lain.
Sebuah tabrakan besar diduga menyebabkan kemiringan sumbu
Bumi
dan menghasilkan Bulan. Seiring waktu, Bumi mendingin dan
membentuk kerak padat dan memungkinkan cairan tercipta di permukaannya. Bentuk
kehidupan pertama muncul antara 2,8 dan 2,5 miliar tahun yang lalu. Kehidupan fotosintesis muncul sekitar 2 miliar tahun yang lalu,
nan memperkaya oksigen di atmosfer. Sebagian besar makhluk hidup masih
berukuran kecil dan mikroskopis, sampai akhirnya makhluk hidup multiseluler
kompleks mulai lahir sekitar 580 juta tahun yang lalu. Pada periode Kambrium, Bumi mengalami diversifikasi filum besar-besaran yang sangat cepat.
Perubahan biologis dan geologis
terus terjadi di planet ini sejak terbentuk. Organisme terus berevolusi, berubah menjadi bentuk baru atau punah seiring perubahan Bumi. Proses tektonik lempeng memainkan peran penting dalam
pembentukan lautan dan benua di Bumi, termasuk kehidupan di dalamnya. Biosfer memiliki dampak besar terhadap
atmosfer dan kondisi abiotik lainnya di planet ini, seperti pembentukan lapisan ozon, proliferasi oksigen, dan
penciptaan tanah.
Daratan adalah bagian dari permukaan
bumi yang tidak digenangi air. Wilayah yang termasuk daratan meliputi
pegunungan, perbukitan, dataran, dan lembah. Bumi banyak mengandung air.
Permukaan daratan pun ada yang tergenang air dan ada yang kering. Bagian
daratan yang kering adalah padang pasir, dataran rendah, dataran tinggi, dan
pegunungan. Bagian daratan yang tergenang air, misalnya rawa, danau, dan
sungai.
Laut merupakan
perairan yang terletak di tepi samodera, diantara samodera dan benua atau benua
dan benua, serta berada di pedalaman benua. Macam- macam laut antara lain Laut Tepi (Marginal Sea) merupakan laut dengan kedalaman berkisar
100 sampai 200 meter dan terletak di tepi benua, dipisahkan dari samodera oleh
rangkaian kepulauan (archipelago). Laut tepi lazim disebut sebagai
paparan (shelf).Laut Tengah (Mediteran Sea) merupakan laut dengan kedalaman >
1000 meter dan terletak antara benua dengan samodera atau antara benua dengan
benua yang dihubungkan oleh selat.Laut Pedalaman (Interior Sea) merupakan laut dengan kedalaman
> 200 meter, dan terletak di pedalaman / tengah benua.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana proses pembentukan daratan
dan lautan sehingga adanya undak kontinen dipermukaan bumi?
2.
Apa saja proses
dan karakteristik yang terbentuknya undak kontinen dipermukaan bumi?
C. Tujuan dan Manfaat
1. Mahasiswa
mampu mengetahui bagaimana proses pembentukan daratan dan lautan sehingga
adanya undak kontinen dipermukaan bumi?
2. Mahasiswa mampu memahami bagaimana proses dan
karateristik terbentuknya undak kontinen dipermukaan bumi?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses Terbentuknya Daratan dan Lautan
Proses pembentukan lautan
berdasarkan teori laplace (kabut) berawal
dari proses pembentukan bumi yang mana, menurut laplace, bumi terbentuk 4 miliar tahun
yang lalu, karen pembentukan bumi berawal dari pengerutan matahari yang
mengakibatkan, bagian dari matahari terlepas, sehingga terlempar keluar dan
saling tabrakan, akhirnya terbentuklah planet, salah satunya planet bumi, karena pada
saat itu gravitasi bumi sangat kuat sehingga menarik asteroid, sehingga terjadi
tabrakan. dengan adanya tabrakan yang cukup banyak dan dashyat, akhirnya
terbentuklah kawah kawah, dari kawah itulah mul;ai terbentuk lautan, di mana
pada awalnya, karena bumi di selimuti oleh kabut sehingga bumi mengalami
pembekuan, setelah tak lama kemudian debu yang menyelimuti bumi menghilang dan
sinar matahri dapat tembus, mengakibatkan terjadinya kondensasi uap air yang
ada, dan mulai turun hujan, hujan yang berlalu sangat lama ini mengakibatkan
kawah yang terbentuk tadi terisi oleh air.
Pada awalnya, laut bersifat sangat asam (dengan
suhu sekitar 100 °c) hal ini disebabkan
oleh keadaan bumi yang sangat panas dan keadaan atmosfer bumi yang dipenuhi
oleh karbondioksida. Pada saat itu juga, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid menghantam
bumi disertai fenomena pasang surut air
laut yang begitu cepat terjadi karena jarak bulan yang begitu dekat dengan
bumi.
Kemudian,
secara perlahan-lahan jumlah karbondioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang
akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk
kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar matahari
dapat kembali masuk menyinari bumi dan mengakibatkan terjadinya proses
penguapan sehingga volume air laut di bumi juga mengalami pengurangan dan
bagian-bagian di bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan
batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, hal
inilah yang menyebabkan air laut kini semakin asin.
Dengan
adanya air laut yang disebabkan oleh fenomena alam pada 4,4 milyar tahun lalu
(seperti sudah dijelaskan di atas) bumi kemudian mengalami perubahan bentuk
daratan.
Contoh
kasus: “Terpisahnya Benua Amerika dari Eropa dan Afrika”. Hal ini juga terjadi dibeberapa
rekam kejadian alam sebelumnya yang mencatat bahwa sebelumnya daratan di bumi
saling menyatu. Animasi menjelaskan perubahan bentuk daratan di bumi hingga
saat ini. Pergeseran bentuk bumi (menurut para ahli geologi) juga disebabkan
oleh pergerakan lempeng tektonik yang mengakibatkan keretakan pada daratan
dibumi.
Proses
terbentuknya daratan tidak lepas dari proses terbentuknya planet bumi yang
merupakan salah satu benda langit yang terbentuk dari awan/gas/asap langit
kemudian bumi itu berupa bintang yang sangat kecil karena proses tekanan antar
material pembentuk yang mempunyai tekanan (gravitasi) kearah memusat (Inti
bumi) sehingga menimbulkan pijaran panas memancar dilangit.
Kemudian
saat melewati beberapa proses benda langit yang akhirnya diketahui bernama bumi
(yang saat itu masih berupa bola pijar) mulai mendingin (karena suhu ruang
langit sangat dingin, karena jaraknya jauh dari sumber panas (matahari), maka
bumi yang termasuk jauh dari matahari dan menerima kualitas panas Matahari
lebih rendah daripada planet yg lebih dekat, sehingga lebih dulu mendingin dan
membeku menjadi es, bagian luar (kulit) bumi membentuk dasar tanah, air &
atmosfer (terjadi karena siklus alam). Selanjutnya mengalami (siklus) gejolak
dari inti bumi yang mengarah keluar ke permukaan bumi (gunung berapi) atau
membentuk aktivitas vulkanik & tektonik dari gunung berapi pada dasar tanah
yang baru terbentuk itu.
Aktivitas
inti bumi menimbulkan banyak terbentuk gunung berapi yang memancarkan meterial
dari inti bumi membentuk tanah daratan, sehingga dasar tanah dan tanah daratan
yang terbentuk selama proses aktivitas planet bumi (siklus tanah bumi) akan
menimbulkan lempeng benua. Relief tanah lempeng benua terbentuk karena siklus
alam, tanah mempunyai jenis, berat, masa jenis & kandungan material yang
berbeda dan menekan ke inti bumi (gravitasi bumi) menimbulkan tekanan besar
menghasilkan panas inti bumi.
Bentuk
relief daratan lempeng benua sebagian besar terbentuk karena proses siklus
hidrologi global dalam jumlah besar (pada masa itu terjadi banjir gadang berupa
air bah yang menutupi permukaan planet bumi karena es mencair dalam jumlah
besar) sehingga 2/3 lebih permukaan bumi hampir ditutupi oleh air yang seperti
pada samudera altantik utara ke selatan telah mengikis memotong tanah antara
benua Amerika, Eropa & Afrika dalam jumlah sangat besar yang bentuknya
seperti bentuk pola aliran sungai raksasa.
Pada
akhirnya relief lempengan daratan benua terbentuk, karena bergeser membentuk
pecahan benua. Daratan seperti yang kita kenal bentuknya seperti sekarang ini
kemungkinan untuk berubah lagi (secara extrim) sangat kecil karena bobot
lempengan tanah daratan benua sangat berat & tekanannya ke inti bumi sangat
kuat, dan pergeserannya sangat kecil.
B. Faktor Pembentuk Muka Bumi di Daratan dan Lautan
1. Tenaga Endogen
Tenaga
Endogen
juga bisa disebut juga tenaga tektonik. Tenaga Endogen adalah tenaga yang
berasal dari dalam bumi. Tenaga Endogen terdiri dari proses diatropisme dan
proses vulkanisme. Tenaga Endogen sering menekan di sekitar lapisan-lapisan
batuan pembentuk kulit bumi (litosfer).
·
Proses Diastropisme
Proses Diastropisme adalah proses
strutual yang mengakibatkan terjadinya lipatan dan patahan tanpa dipengaruhi
magma tapi tenaga dari dalam bumi.
·
Proses lipatan
Jika
tenaga endogen yang menekan litosfer arahnya mendatar dan bertumpukan yang
mengakibatkan permukaan bum melipat menybabkan terbentuknya puncak dan
lembah.Bentuk permukaan bumi dari hasil proses ini ada dua, yaitu : puncak lipatan (antiklin), lembah lipatan
(sinklin).
·
Proses Patahan
Proses
datropisme juga dapat menyababkan truktur lapisan-lapian batuan retak-retak dan
patah. Lapiasan batuan yang mengalami proses patahan ada yang mengalami
pemerosotan yang membentuk lemdh patahan dan ada yang terangkat membentuk puck
patahan. Lembah patahan disebut slenk atau graben sedangkan puncak patahan
dinamakan horst.
·
Vulkanisme
Tenaga
tektonik dapat mengakibatkan gejala vulaknisme. Gejala vulkanisme berhubungan
dengan aktivtas keluarnya magma di gunungapi. Proses keluarnya magma ke
permukaan bumi disebut erupsi gunungapi. Proses vulkanisme terjadi karena
adanya magma yang keluar dari zona tumbukan antarlampang. Beberapa gunugapi
ditemukan berada di tengah lempeng yang disebsbkan oleh tersumbatnya panas di
kerak bumi gejala ini disebut titik panas (hotspot).Para ilmuan menduga aliaran
magma mendesak keluar membakar kerak bumi dan melutus di permukaan.
2. Tenaga Eksogen
Tenaga
eksogen
yaitu tenaga yang berasal dari luar bumi. Sifat umum tenaga eksogen adalah
merombak bentuk permukaan bumi hasil bentukan dari tenaga endogen.Secara umum
tenaga eksogen berasal dari 3 sumber, yaitu:
• Atmosfer, yaitu perubahan suhu dan
angin.
• Air yaitu bisa berupa aliran air,
siraman hujan, hempasan gelombang laut, gletser, dan sebagainya. Organisme yaitu berupa jasad renik,
tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
Di
permukaan laut, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh
tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta
sedimentasi. Misalnya di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme
atau vulkanisme. Mula-mula bukit dihancurkannya melalui tenaga pelapukan,
kemudian puing-puing yang telah hancur diangkut oleh tenaga air, angin, gletser
atau dengan hanya grafitasi bumi.
Contoh
lain dari tenaga eksogen adalah pengikisan pantai. Setiap saat air laut
menerjang pantai yang akibatnya tanah dan batuannya terkikis dan terbawa oleh
air. Tanah dan batuan yang dibawa air tersebut kemudian diendapkan dan
menyebabkan pantai menjadi dangkal. Di daerah pegunungan bisa juga ditemukan
sebuah bukit batu yang kian hari semakin kecil akibat tiupan angin.
·
Pelapukan.
Pelapukan merupakan tenaga perombak
(pengkikisan) oleh media penghancur. Proses pelapukan dapat dikatakan sebagai
proses penghancuran massa batuan melalui media penghancuran, berupa: Sinar
matahari, Air, Gletser,Reaksi kimiawi, Kegiatan makhluk hidup (organisme)
·
Erosi
Erosi seperti pelapukan adalah
tenaga perombak (pengkikisan). Tapi yang membedakan erosi dengan pelapukan
adalah erosi adalah pengkikisan oleh media yang bergerak, seperti air sungai,
angin, gelombang laut, atau gletser. Erosi dibedakan oleh jenis tenaga
perombaknya yaitu :Erosi air, Erosi angin (deflasi), Erosi gelombang laut
(abarasi / erosi marin ), Erosi gletser (glasial).
C. Proses dan Karakteristik Undak Kontinen
1. Karakteristik Laut
Kepulauan Indonesia
terbentuk oleh proses (endogen) rumit geologi dari gejala konvergensi lempeng
(litosfer) menghasilkan bentang alam (fisiografi) yang sangat kompleks.
Demikian halnya dengan pantai pulau-pulaunya, terbentuk seiring evolusi geologi
dengan ciri masing-masing berdasar proses dan mandala geologinya, yang kemudian
terlihat pada keragaman jenis batuan, struktur dan kelurusan, lereng pantai dan
perairan bentuk muara sungai dan lain-lain bagian bentang pantai. Kondisi
iklim/cuava (atmosfer) dan laut (biosfer) mengiringi evolusi tersebut memberi
pengaruh (eksogen) pada proses pembentukan bentang alam. Kegiatan manusia
(biosfer) mulai ikut berpengaruh pada proses evolusi mengubah bentang alam
melalui upaya (anthropogenic) mengubah lingkungan untuk kepentingannya sejak
zaman Anthroposen.
Berdasarkan kenyataan demikian, klasifikasi wilayah pesisir dan
pantai di Indonesia akan lebih sempurna bila didasarkan atas beberapa hal yang
menyangkut proses pembentukan (genesa) dan perubahannya yang melibatkan
unsur-unsur di atas. Berdasar klasifikasi ini, dapat lebih mudah mengenali
sifat dan potensi hingga kerawanan yang dimilikinya, yang bermanfaat sebagai
dasar dalam upaya pengelolaannya berdasar keseimbangan dan kelestarian, di masa
yang akan datang. Suatu pengkelasan pantai berdasar genesa, morfologi serta kondisi
perairannya diusulkan sebagai berikut, mengikuti kriteria-kriteria:
Penunjaman (Subduction): Gerak relatif kerak Samudra Hindia dan benua
Australia ke utara menghasilkan penunjaman di bawah Sumatra, Jawa dan sebagian
Sunda Kecil (NTB). Penunjamann dicirikan oleh palung dalam samudra, lereng
depan curam, jalur busur luar dan jalur volkanik. Pesisir dan pantai jalur ini
umumnya dibentuk oleh perbukitan terjal dengan tebing lereng depan curam tanpa
tutupan tumbuhan.
Ciri
morfologi pantai dan pesisir lainnya adalah tebing
curam perbukitan pantai, erosi dan abrasi kuat pada tebing curam. Pantai
datar berpasir relatif lurus dengan asupan sedimen dari sungai kadang membentuk
bukit pasir (sand dune) dengan selingan rawa. Pola
aliran sungai hampir tegak lurus pantai dengan gradient tebing curam lambah
sungai. Kegempaan
kuat dan sering kejadiannya, adakalanya diikuti tsunami. Penenggelaman
bergantian dengan pengangkatan pantai atau terumbu karang mengiringi proses
penunjaman. Curah hujan tinggi dan gejala geologi di kawasan ini memberikan
bentang alam dengan tebing dan lereng curam.
Tumbukan (collision): Gerak
lempeng yang saling bertumbukan menghasilkan batuan yang tercampur
aduk (chaotic) yang terkerat kuat oleh struktur geologi patahan dan rekahan.
Proses tumbukan dapat diamati hasilnya di kawasan antara Flores hingga
Wetar sebagai sisa jalur volkanik dengan ciri pantai kaki volkanikdengan
tutupan batu gamping terangkat, Sumba sebagai busur luarnya denganmorfologi
pantai teras terumbu terangkat, dan jalur Sabu-Rote dan Timor sebagai
jalur tumbukan dengan ciri pantai curam serta singkapan batu gamping
terangkat dengan terobosan lumpur endapan tua. Contoh kota di jalur
ini adalah: Kupang, Waingapu, Baa, dll
Gerakan Lateral : Jenis
konvergensi yang menghasilkan batas pertemuan dari lempeng yang saling geser
ini di Indonesia tidak begitu mudah dilihat gejalanya didaratan, kecuali di
kepala burung Irian Jaya yang menghasilkan sesar geser. Sorong
dengan pegunungan terjal menghadap langsung ke laut membentuk pantai
curam berbukit. Patahan dan rekahan menandai jalur ini menyebabkan batuan
pantai bertebing curam bertambah rentan longsor dan terabrasi. Pantai di
jalur ini umumnya sangat labil dan rawan bencana, mengingat kegempaan juga
relatif tinggi (gempa dan tsunami di. P Biak). Contoh kota di mandala ini:
Biak, Manokwari, Sorong
Pantai terangkat dan
tenggelam : Jenis pantai yang mengalami pengangkatan dan penuruan
dapat ditemukan di berbagai pulau di kawasan yang saat ini berada
pada jalur aktif tektonik yang menghasilkan gerak tegak, di jalur
tumbukan atau penunjaman. Di darat, gejala ini terlihat di pantai
yang bertutupan tumbuhan adalahtenggelamnya sebagian tumbuhan (Cassuarina sp,
mangrove, dll) atau bentukkhusus terumbu karang yang menandai gejala ini (out
side stepping) dan gejala erosi pantai. Adanya pengangkatan dapat
terlihat dari bentuk undak teras pantai dan adanya akresi pantai
sementara munculnya terumbu karang membentuk daratan merupakan
tanda di bagian perairan. Penurunan daratan dapat diakibatkan oleh
adamya kompaksi endapan di pesisir, atau memang ada gejala kenaikan
permukaan air laut. Contoh kota di pulau ini adalah: Waingapu
(Sumba), Tuah Pejat (Mentawai)
2. Karakteristik Pegunungan
Dalam
ilmu kebumian dikenal teori tektonik lempeng. Menurut teori ini, Bumi terdiri
atas lempeng-lempeng yang terus bergerak (gambar 1a). Lempeng merupakan
gabungan dari dua lapisan kulit Bumi. Bumi, seperti yang terlihat pada gambar
1b di bawah, terdiri dari lapisan inti (core), mantel (mantle)
dan kerak (crust).
Gambar 1a) Lempeng-lempeng Bumi, warna merah menunjukkan
jalur pegunungan dan gunung api
Inti
Bumi terbagi menjadi inti dalam yang berupa besi padat dan inti luar yang cair.
Temperatur pada inti diperkirakan sebesar 4300°C dengan kedalaman 2900-5200 km.
Di atasnya terdapat lapisan mantel yang terletak pada kedalaman sekitar 2900
km, yang temperaturnya berkisar antara 1000-3700°C. Lapisan ini juga bersifat
cair namun lebih kental daripada inti luar. Pada lapisan mantel terjadi arus
konveksi yang menggerakkan kerak di atasnya.
Di bagian terluar Bumi terdapat lapisan kerak
yang relatif dingin, padat, dan tipis (paling tebal 30 km). Kerak terbagi lagi
menjadi kerak benua dan kerak samudera. Densitas kerak samudera lebih tinggi
dibandingkan kerak benua. Akan tetapi, kerak benua relatif lebih tebah
dibandingkan kerak samudera. Mantel bagian atas dan kerak inilah yang membentuk
lempeng.
Di
Bumi terdapat sekitar 5 lempeng besar dan beberapa lempeng kecil. Kelima
lempeng besar tersebut adalah Lempeng Pasifik, Lempeng Afrika, Lempeng
Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Antartika. Lempeng-lempeng tersebut
sepanjang tahun terus bergerak dan berinteraksi di perbatasannya. Interaksi ini
dapat berupa interaksi konvergen, divergen atau persinggungan (transform).
Pada interaksi konvergen, terjadi tabrakan
antar lempeng dan kemudian salah satu lempeng menunjam (membenam) ke bawah
lempeng lainnya. Jika tabrakan terjadi di laut, akan terbentuk palung pada
sepanjang batas antara kedua lempeng. Lempeng yang menunjam adalah lempeng yang
lebih berat (densitasnya lebih tinggi), yang biasanya adalah lempeng samudra.
Ketika mencapai mantel, lempeng yang menunjam ini mengalami pelelehan sebagian
(partial melting). Lelehan lempeng ini merupakan bahan baku magma.
Pada interaksi divergen yang umumnya terjadi
di tengah dasar samudera, lempeng-lempeng saling memisah akibat dorongan
material magma dari dalam mantel. Magma yang mendorong lempeng sebagian muncul
ke permukaan, membeku dan menghasilkan lempeng baru. Batas antar lempeng dalam
interaksi divergen, ditandai dengan adanya punggungan tengah samudera (mid-oceanic
ridge). Punggungan ini sebenarnya adalah rangkaian gunung api tempat
keluarnya magma yang membentuk lempeng baru. Namun gunung-gunung api ini
relatif tidak berbahaya karena jauh dari permukiman manusia.
Sedangkan pada interaksi persinggungan,
lempeng-lempeng saling bergesekan tanpa membentuk pemekaran maupun penunjaman.
Tidak terjadi pelelehan lempeng lama maupun pemunculan lempeng baru.
Dalam interaksi konvergen dan persinggungan,
lempeng-lempeng saling bertabrakan atau bergesekan. Tabrakan dan gesekan ini
menimbulkan tegangan pada kedua lempeng, mirip dengan yang terjadi pada
sepotong penggaris besi yang tegang karena dibengkokkan. Jika penggaris besi
itu kembali ke posisi semula, akan terjadi getaran disertai bunyi yang cukup
keras.
Jika dibawa ke dalam konteks Bumi, salah satu
lempeng akan dibengkokkan oleh desakan lempeng lain. Jika lempeng yang bengkok
tersebut kembali ke posisi semula, akan timbul getaran yang dirasakan manusia
sebagai gempa Bumi tektonik, disertai patahnya lempeng tersebut. Kuat lemahnya
getaran gempa tersebut antara lain bergantung pada kedalaman terjadinya
patahan, atau dengan kata lain kedalaman pusat gempa. Selain patah, tabrakan
dan gesekan juga memunculkan retakan/rekahan, terutama pada bagian tepi
masing-masing lempeng.
Rekahan yang timbul akan menjadi saluran
lewatnya magma dari dalam mantel. Magma kemudian keluar ke permukaan, membeku,
terkumpul dan tertimbun membentuk gunung api. Inilah salah satu mekanisme
terbentuknya gunung di batas lempeng. Mekanisme lain adalah bagian lempeng yang
tidak terbenam terlipat atau menggumpal ke atas membentuk tonjolan pegunungan.
Kondisi ini mirip dengan kejadian karpet yang terlipat ke atas ketika tepinya ”menabrak”
dinding atau lemari.
Gunung yang terbentuk di batas lempeng
konvergen terbagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe himalaya, tipe busur vulkanik
dan tipe busur kepulauan.
Tipe
Himalaya merupakan rangkaian pegunungan yang terbentuk akibat tumbukan lempeng
benua dengan lempeng benua. Salah satu lempeng terlipat, dan menonjol ke atas.
Lempeng benua yang lain menunjam ke bawah. Karena ketebalannya, lempeng benua
meleleh pada kedalaman yang cukup besar. Magma yang terbentuk dengan demikian
sangat dalam, sehingga tidak mampu mencapai permukaan. Contoh tipe ini adalah
Pegunungan Himalaya.
Gambar 2a) Pegunungan tipe Himalaya
Tipe
busur vulkanik adalah rangkaian gunung api yang terbentuk akibat tumbukan
lempeng samudera dengan benua. Lempeng samudera menunjam ke bawah lempeng
benua. Karena relatif tipis, lempeng samudera meleleh pada kedalaman dangkal.
Magma yang dihasilkannya dengan begitu lebih mudah muncul ke permukaan. Contoh
tipe ini adalah pegunungan di selatan Pulau Jawa.
Gambar 2b) Pegunungan tipe busur vulkanik
Tipe
busur kepulauan adalah deretan gunung api yang membentuk kepulauan. Contoh tipe
ini adalah kepulauan di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Pembentukan busur
kepulauan mirip dengan tipe busur vulkanik. Bedanya, kedua lempeng yang bertumbukan
pada tipe ini adalah lempeng samudera.
Gambar 2c) Pegunungan tipe busur kepulauan
Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa
gunung pada umumnya terbentuk dan berada di daerah batas antar lempeng yang
terus bergerak, khususnya di batas interaksi konvergen dan divergen. Pada batas
interaksi konvergen (tipe himalaya, busur vulkanik dan busur kepulauan),
gunung-gunung tersebut mampu meredam guncangan akibat tabrakan antar lempeng.
Kemampuan ini muncul karena gunung memiliki
massa dan ketebalan yang sangat besar. Kemampuan gunung tersebut lebih
dibutuhkan lagi di daerah busur vulkanik dan kepulauan seperti Indonesia.
Sebagaimana telah disinggung di atas, lempeng yang menunjam pada kedua tipe
tersebut umumnya tipis. Karena tipis, selain lebih mudah meleleh, lempeng juga
lebih mudah patah pada kedalaman dangkal. Akibatnya, Di daerah-daerah tersebut,
pusat-pusat gempa umumnya dangkal (kedalaman <33 km) sehingga energi
guncangannya relatif besar dan sangat membahayakan kehidupan manusia.
Oleh karena itu, daerah pegunungan (apalagi
di daerah kepulauan seperti Indonesia) adalah daerah yang berbahaya untuk
dijadikan permukiman. Tempat yang relatif aman adalah daerah di balik gunung,
yang jauh dari zona interaksi antar lempeng. Meskipun terjadi guncangan,
kekuatannya sudah jauh berkurang karena teredam oleh oleh gunung tersebut.
Di luar batas lempeng konvergen maupun
divergen, gunung api sebenarnya juga muncul di sejumlah lokasi lain.
Lokasi-lokasi tersebut tidak terletak di batas lempeng manapun, malahan berada
di di tengah-tengah lempeng. Contohnya adalah di jantung benua Afrika, atau di
rangkaian Kepulauan Hawaii. Gunung-gunung api di sana dekat dengan wilayah
permukiman manusia, namun jauh dari batas lempeng apapun (konvergen, divergen,
atau persinggungan). Karena jauh dari batas lempeng, gunung-gunung tersebut
sama sekali tidak berfungsi meredam guncangan.
Gunung-gunung
di jantung Afrika maupun Kepulauan Hawaii muncul sebagai akibat fenomena hotspot.
Terdapat l.k. 40 titik hotspot di seluruh permukaan Bumi. Salah satu
teori yang berkembang menyebutkan bahwa hotspot muncul karena adanya
saluran sempit yang meloloskan material panas dari perbatasan inti bumi dan
mantel. Teori lain menjelaskan bahwa hotspot tidak lain terjadi karena aliran
konveksi material mantel, aliran yang juga menyebabkan pergerakan lempeng.
Sampai saat ini para ilmuwan belum bisa sepenuhnya menjelaskan fenomena ini.
3. Pembentukan Dataran Rendah
Proses pembentukan gunung berlangsung
menurut skala tahun geologi yaitu berkisar antara 45 �
450 juta tahun yang lalu. Misalnya pegunungan
Himalaya terbentuk mulai dari 45 juta tahun yang lalu, sedangkan pegunungan
Appalache terbentuk mulai dari 450 jutan tahun yang lalu.
Model
terjadinya gunung mengalami tiga tingkatan proses, yaitu:
·
Akumulasi sedimen:
lapisan lapisan sedimen dan batuan vulkanik menumpuk sampai kedalaman beberapa
kilometer.
·
Perubahan bentuk batuan dan
pengangkatan kerak bumi:sedimen yang terbentuk tadi mengalami deformasi karena
adanya gaya kompresi akibat tumbukan antar lempeng-lempeng tektonik.
·
Pengangkatan kerak bumi akibat
gerakan blok sesar: tumbukan antar lempeng akan mengangkat sebagian kerak bumi
sebagai lipatan lebih tinggi dari sekitarnya sehingga terbentuk gunung.
Sedangkan jika terjadi gaya tegangan atau tarikan antar lempeng maka akan
terbentuk graben (lembah)
Skema
Proses Terjadinya Pegunungan Himalaya
Sebelum terbentuk pegunungan Himalaya , terjadi gerakan
lempeng India ke arah lempeng Eurasia. Lempeng India
merupakan komposisi batuan yang sangat tua 2-2,5 milyar tahun. Titik referensi
yang berwarna kotak merah masih berada dibawah . Setelah mengalami proses
tumbukan yang lama antara dua lempeng tersebut maka
sebagian dari tepi lempeng India terangkat dimana terlihat kotak merah berubah
posisi ke tempat yang lebih tinggi.Sehingga terbentuklah pegunungan Himalaya
saat ini.
Skema
Pembentukan Dataran Rendah (Graben)
(Sumber:
http://csmres.jmu.edu/geollab/vageol/vahist/mtnmodel.html)
Kulit bumi yang sebelumnya dalam kondisi seimbang, mendapat
gaya tektonik yang saling berlawanan arah (gaya
regangan) akibat desakan panas ke atas, sehingga menimbulkan retakan
(cracking). Proses tektonik ini berlangsung terus menerus dalam jangka waktu
geologi yang cukup lama. Blok yang retak menjadi turun akibat gaya tarik gaya
berat sehingga terbentuk
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan pembahasan diatas maka dapat
disimpulkan bahwa daratan dan lautan yang ada saat ini tidaklah muncul begitu
saja melainkan melalui proses yang sangat panjang hingga membutuhkan waktu
jutaan bahkan milyaran tahun yang lalu. Daratan dan lautan terbentuk oleh
tenaga endogen dan eksogen yang ada di bumi. Tenaga endogen yaitu tenaga yang
berasal dari dalam bumi berupa proses diatropisme, proses patahan, proses
lipatan dan vukanisme. Sedangkan tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari
luar bumi berupa proses pelapukan dan
erosi. Dan dalam
proses tersebut menghasilkan permukaan bumi yang tidak rata, seperti pegunungan
Himalaya, terbentuknya lembah dan palung
mariana dll.
B. Saran
Bumi yang ada saat ini bukanlah muncul begitu
saja tetapi terbentuk melalui proses yang panjang seperti yang telah disebutkan
pada kesimpulan tadi, maka dari itu marilah kita bersama-sama menjaga
kelestarian dari bumi itu sendiri dengan tidak merusak atau mencemari segala sesuatu yang ada pada daratan dan
lautannya. Karena jika bumi telah rusak maka proses panjang yang telah dilalui
tersebut akan menjadi sia-sia saja.
Daftar Pustaka